Cerpen : "Tragedi masa kecil"
Ok!.. Cerpen ini sih sebenernya mau nyeritain kehidupan gue yang hampir mati di jadikan tumbal oleh tetangga gue. Entah kalian yang baca mau percaya atau tidak yang jelas ini fakta tentang kehidupan gue yang kelam. Jadi, gini ceritanya..
Siang itu sungguh sangat panas. Terik matahari benar - benar membuat aku malas untuk bermain keluar rumah tapi, karena temanku mengajakku bermain. Jadi, aku mengangguk setuju. Kami bermain di depan rumah di bawah rindangnya pohon mangga. Kami biasa bermain membuat rumah - rumahan dari tanah. Terkadang aku bertugas menggali tanah dan temanku membuat beberapa bidang entah itu kotak maupun persegi panjang. Saat sedang asik menggali tanah, aku melihat benda bundar kecil berwarna perak. Ku ambil benda tersebut, ku bersihkan tanah - tanah yang menempel dan diperhatikan benda itu ternyata uang koin. Aku senang sekali menemukan uang itu meski jumlahnya kecil. Mungkin hanya cukup untuk membeli permen.
Pada masa itu uang Rp.200 masih berlaku dan aku memiliki niat ketika melihat uang koin itu untuk ku belikan permen. Aku bilang kepada temanku bahwa aku menemukan uang koin dan akan ku belikan untuk permen. Ku suruh temanku untuk menunggu selagi aku berlari ke toko. Kebiasaan burukku memang selalu berlari kemana pun pergi dan menyebrangi jalan tanpa menengok ke kanan atau kiri. Tokonya terletak dengan jalan desa yang beraspal, cukup untuk kendaraan besar maupun kecil.
Ku datangi toko, ku belikan uang koin itu untuk permen. Setelah mendapatkan beberapa permen aku segera berlari dan tiba-tiba saja terhenti sebab hatiku merasa tidak nyaman. Ku tengok ke kiri tak ada kendaraan lalu menengok ke sebelah kanan jalanan tak terlihat karena terhalang oleh tiang jemuran. Ku langkahkan kaki untuk melihat keadaan jalan sebelah kanan. Jalan itu sepi tak ada kendaraan dari kejauhan pun, sesegera aku berlari.
Sesampai di rumah ku dengar ibuku sedang menangis histeris dan terus memanggi-manggil namaku "Ya Allah sintaaaaa... sintaa.... sintaaa...". "Kenapa mah? Ini sinta mah. Ini sinta.." Teriakku. Ibuku menangis makin menjadi-jadi lalu berlari mengabaikanku.
Terasak sesak dada ini. Gelap gulita. Benar-benar hanya gelap gulita ku lihat. Sakit. benar-benar sakit. Ku rasakan sebuah sakit yang teramat sangat di sekitar kakiku. Beberapa kali ku dengar seseorang memanggil namaku. Beberapa kali ku dengar ayat-ayat Al - Qur'an.
"Aaaarrrhhhh...!!" Jeritku. Sakit sekali Ya Allah. Aku terbangun, ku lihat sekelilingku ada orang-orang yang berpakain hijau, memakai masker hijau, dan penutup kepala berwarna hijau pula. "Auhhh.. Aaauuhhhh... Sakiiittt.." geramku. Satu orang diantaranya sedang menarik benang dari kaki kananku dan memegang pisau bedah. Gelap. Kembali gelap. Dan tersadar di bahwa aku kelilingi oleh kerabat orang tuaku. Ayahku menghampiriku dan berkata "Alhamdulillah.. Sadar. Udah dua hari sinta ngga sadar. Bapak harusnya bilang sama ngasih tau dari awal kalo sinta mau dapet musibah, soalnya bapak ngimpiin kakek ngasih amanat katanya "jagain anak lu. kasian dia mao di bawa sama orang." ga taunya ini maksud dari kata-katanya.." "Bapak nyesel ngga bisa jagain sinta." Lanjutnya.
Aku menangis mendengarkan hal itu. Ku tatap wajah ayaku yang lusuh dengan matanya yang sembab.
Komentar
Posting Komentar